Rabu, 19 Januari 2011

PERJUMPAAN ISLAM DAN BARAT: Sejarah Transmisi Peradaban

Oleh: Muh. Ikhsan AR.

ABSTRAK
 Dalam sejarah—seperti diketahui—tradisi intelektualisme Islam berkembang dan kian menemukan bentuknya terutama terletak antara abad ke-8 dan ke-13 M. Dalam periode pertengahan inilah, oleh banyak ahli sejarah memandang dunia Islam sebagai mengalami "pencerahan intelektual". Pendapat ini berangkat dari satu kenyataan dimana pada saat itu telah terjadi penerimaan (reception), pencatatan (preservation), dan pemindahan (transmition) ilmu pengetahuan Yunani dan bangsa lainnya ke dalam dunia Islam.
Tradisi intelektualisme ini diawali dengan gerakan penerjemahan buku-buku Yunani dan bangsa lainnya ke dalam bahasa Arab yang berpusat di Bayt al-Hikmah di Baghdad semisal karangan-karangan Galinos, Hipocrates, Ptolomeus, Euclid, Plato, Aristoteles, dan lain-lain.
Yang dimaksud sains Islam dalam tulisan ini ialah seluruh produk prestasi peradaban dan kebudayaan Muslim, khususnya menyangkut ilmu pengetahuan kealaman (natural science) dan ruh ilmiah (scientific spirit). Setidaknya terdapat tiga tahapan dalam proses transmisi pemikiran dan sains Islam ke Barat Kristen Abad Pertengahan: Tahap pertama, kelompok sarjana (Barat) mengunjungi wilayah-wilayah Muslim untuk melakukan kajian-kajian pribadi. Tahap kedua, bermula dari pendirian universitas-universitas pertama Barat. Tahap ketiga, sains Muslim ditransmisi ke Prancis dan wilayah-wilayah Barat melalui Itali.
            Sementara itu, bila hendak menelusuri bentuk-bentuk transmisi pemikiran dan sains Islam ke Barat, setidaknya terdapat dua hal paling menonjol yaitu kontak intelektual dan perang salib. Kontak Intelektual, sedikitnya terdapat dua tempat yang sangat penting dikemukakan di sini untuk disebut sebagai "pusat" transmisi pemikiran dan sains Islam ke Barat-Kristen Abad Pertengahan. Pertama, Spanyol, tepatnya Andalusia dan Kedua, Sisilia. Kontak Perang Salib, Siria dan sekitarnya, seperti diketahui, adalah wilayah di mana Islam dan Barat berjumpa dalam bentuk perang Salib. Perang yang berlangsung antara 1095 sampai 1291 ini, sedikitnya punya pengaruh terhadap transmisi pemikiran dan sains Islam ke Barat. Kendati demikian, bila dibanding yang pertama, pola kedua tidak melahirkan proses transmisi yang berarti.

Kata Kunci : Peradaban Islam, Peradaban Barat, Transmisi Peradaban.

A.    PENDAHULUAN
            Satu penjelasan yang sepenuhnya kinematik[1] mengenai transmisi pengetahuan ilmiah dari satu kultur ke kultur lainnya—di mana kultur dipahami terutama sebagai suatu wilayah "disini-kini"—akan merupakan satu gambaran mengenai gerakan produk-produk ilmiah; yaitu berupa pemindahan teks-teks, konsep-konsep, teori-teori, teknik-teknik, dan seterusnya dari satu kultur tertentu.
Tujuan utama penggambaran seperti itu tak lain untuk menyatakan kapan dan dimana terjadinya perjalanan produk-produk ini, dan dengan demikian menentukan pula jalan gerakan mereka. Karena transmisi seringkali disertai oleh perubahan tertentu, maka suatu pendekatan kinematik mesti mempertimbangkan fakta-fakta tertentu transformasi, seperti fakta bahwa teks pada masa kemudian berbeda secara linguistik dengan teks pada masa awal (terjemahan); atau bahwa yang terakhir merupakan bentuk yang berbeda (ikhtisar, revisi, pengembangan, dan seterusnya) dari pertama.[2]
Sebut saja umpamanya transmisi ilmu pengetahuan Yunani ke Dunia Islam pada sekitar abad ke-8 dan ke-9, merupakan peristiwa penting dalam sejarah peradaban umat manusia. Sebab kelak terbukti, bahwa transmisi itu memiliki konsekuensi-konsekuensi yang luas, yang pegaruhnya tidak saja bagi khazanah klasik, tapi juga bagi perkembangan pemikiran kultur Islam yang pada urutannya menjadi landasan kebangkitan ilmiah Barat-Kristen abad pertengahan.
Seperti diketahui bahwa perkembangan tradisi intelektualisme Islam kian menemukan bentuknya terutama terletak antara abad ke-8 dan ke-13 M. Dalam periode pertengahan inilah, oleh banyak ahli sejarah memandang dunia Islam sebagai mengalami "pencerahan intelektual". Pendapat ini berangkat dari satu kenyataan dimana pada saat itu telah terjadi penerimaan (reception), pencatatan (preservation), dan pemindahan (transmition) ilmu pengetahuan Yunani dan bangsa lainnya ke dalam dunia Islam.[3]
Tradisi intelektualisme ini diawali dengan gerakan penerjemahan buku-buku Yunani dan bangsa lainnya ke dalam bahasa Arab yang berpusat di Bayt al-Hikmah di Baghdad. Ilmu-ilmu yang dicakup gerakan penerjemahan ini adalah ilmu kedokteran, matematika, fisika, mekanika, botanika, optika, astronomi di samping filsafat dan logika. Yang diterjemahkan adalah karangan-karangan Galinos, Hipocrates, Ptolomeus, Euclid, Plato, Aristoteles, dan lain-lain.[4]
Buku-buku itu dikaji dan ditelaah lebih jauh oleh para cendekiawan Muslim di bawah dorongan khalifah-khalifah Abbasiyah baik yang berasal dari peradaban Yunani maupun Persia, Mesir dan dalam batas tertentu juga India.[5]
Dalam mengakses ilmu dan peradaban Yunani, para cendekiawan Muslim tidak sekadar mencatat dan menerjemahkan karya tersebut, melainkan mengomentari, memberi notasi, dan mengembangkannya ke dalam hasil-hasil penelusuran mereka sendiri. Sehingga transmisi ilmu Yunani ke dalam dunia Islam di sini tidaklah dalam pengertian kinematik semata, tetapi justru menciptakan paradigma keilmuan yang khas dan tipikal Muslim, dan dengan begitu mereka berhasil dalam memulai tradisi ilmiah yang baru serta dalam bahasa yang baru pula. Selanjutnya untuk pengembangan ilmu-ilmu itu didirikanlah universitas-universitas. Yang termasyhur diantaranya, Universitas Cordoba di Andalusia (Spanyol Islam), Universitas Al-Azhar di Kairo, dan Universitas Al-Nizamiyah di Baghdad. Universitas yang disebutkan pertama, dalam perkembangannya tak sedikit menyertakan orang-orang Nasrani dari Eropa[6]—terutama pada paruh awal abad ke-11—guna mengikuti studi pada universitas dimaksud. Belakangan, universitas ini menjadi salah satu tempat terpenting dalam transmisi sains dari dunia Islam ke Barat.
Patut dicatat bahwa yang dimaksud sains Islam[7] dalam tulisan ini ialah seluruh produk prestasi peradaban dan kebudayaan Muslim, khususnya menyangkut ilmu pengetahuan kealaman (natural science) dan ruh ilmiah (scientific spirit).
Berangkat dari uraian pendahuluan di atas, berikut dikemukakan permasalahan yang menjadi inti kajian tulisan ini:
  1. Bagaimanakah tahapan dan bentuk transmisi sains Islam ke Barat-Kristen Abad Pertengahan?
  2. Sejauh mana pengaruh sains Islam terhadap sains Barat-Kristen Abad Pertengahan, yang kelak menjadi "paradigma sains modern"?

B.     TAHAPAN DAN BENTUK-BENTUK TRANSMISI SAINS ISLAM KE BARAT-KRISTEN ABAD PERTENGAHAN

Tak dapat disangkal—termasuk oleh kalangan ilmuan Barat—bahkan telah menjadi satu klise bahwa pengembangan sains modern dibangun di atas kontribusi ilmuan-ilmuan Muslim. Di antara sumbangan terpenting mereka adalah penemuan metode eksperimental, yang pada gilirannya melahirkan revolusi di bidang sains dan teknologi hingga tingkat pengembangannya sebagai sekarang ini. Terlepas dari keasyikan "memuja" masa lampau, fakta di atas disebutkan tidak saja dalam rangka menjadikannya 'ibrah (pelajaran) tetapi juga—seperti disebutkan Munawar Ahmad Anees[8]—sebagai keadilan sejarah (historical justice). Dengan begitu diharapkan, bukan hanya kaum di luar Islam, tapi kaum Muslim sendiri dapat memandang agamanya secara lebih utuh: dalam hal ini sebagai suatu kekuatan peradaban yang (pernah) terbukti mampu mendorong pemeluknya untuk dapat—jika bukannya harus—menjadi perambah jalan bagi penciptaan suatu masa depan kemanusiaan yang progresif, di samping tentunya lebih manusiawi.
Sesungguhnya, pengaruh peradaban Muslim (Abad Pertengahan) jauh lebih luas dibanding "sekadar" peletakan landasan sains modern. M.M. Sharif, salah seorang pemikir Muslim Pakistan terkemuka pasca Iqbal—seperti dikutip Haidar Bagir—menambahkan beberapa sumbangan lain pemikiran Islam atas pemikiran Barat: pengenalan ilmu-ilmu sejarah; penyelarasan filsafat dengan agama; penggalakan mistisisme Barat; peletakan landasan bagi Renaisans di Itali; dan sampai tingkat tertentu membentuk pemikiran Eropa modern hingga masa Immanuel Kant, bahkan (pada jurusan tertentu) hingga masa yang lebih belakang.[9]
Bahkan, dalam wilayah tertentu tampak jelas betapa besar kontribusi kaum Muslim terhadap dunia modern. Robert Stephen Briffault (1906-1948), dalam The Making of Humanity, menulis:[10]
"Meski tak satu aspek pun pertumbuhan Eropa tak dipengaruhi secara menentukan oleh Kebudayaan Islam, (namun) pengaruh yang paling jelas dan penting adalah pada sains-sains kealaman (natural science) dan ruh ilmiah (scientific spirit).
Sains adalah sumbangan terbesar peradaban Arab (baca: Islam, pen) kepada dunia modern tetapi buahnya lambat masaknya. Baru tak lama setelah kebudayaan Moor (Arab-Spanyol) terbenam kembali ke dalam kegelapan, maka raksasa yang dilahirkannya bangkit dalam keperkasaannya. Bukan hanya sains yang telah menghidupkan kembali Eropa, melainkan pengaruh-pengaruh lain peradaban Islam juga memancarkan kemilau aslinya kepada kehidupan modern..."
Di samping Beffault, tak sedikit sarjana-sarjana Barat yang secara jujur mengungkapkan kontribusi pemikiran dan sains Islam terhadap Barat. Sebut saja di antaranya Thomas Arnold, Alfred Guillame, George Anawati, Gustave Le Bon, S. Lane Poole, M.P.E Berthelot, George Sarton, Max Meyerhof, John William Drafer, Maurice Lombard, serta Eugene A. Myers.
Kini, kita kembali ke masalah inti, yakni tahapan dan bentuk-bentuk transmisi intelektual dan sains Islam ke Barat. Transmisi pemikiran dan sains Islam ke Barat-Kristen Abad Pertengahan melewati tahap-tahap[11] sebagai berikut:
Tahap pertama, kelompok sarjana (Barat) mengunjungi wilayah-wilayah Muslim untuk melakukan kajian-kajian pribadi. Constantinus Africanus (1087 M) dan Adelhard (1142 M) dari Inggris dapat disebut sebagai perintisnya. Belakangan banyak pelajar dari Itali, Spanyol dan Prancis Selatan menghadiri seminari-seminari Muslim untuk belajar matematika, filsafat, kedokteran, kosmografi, dan lain-lain. Dalam waktu yang tidak lama, mereka telah menjadi kandidat profesor di universitas-universitas pertama di Barat, yang dibangun dengan mencontoh seminari-seminari Muslim tersebut.
Tahap kedua, bermula dari pendirian universitas-universitas pertama Barat. Gaya arsitektur, kurikulum, dan metode dan pengajaran universitas-universitas ini sama dengan yang ada pada seminari-seminari Muslim. Untuk pertama kalinya, seminari Salermo didirikan di kerajaan Napoli (Naples) oleh Raja Fredrick dari Sisilia. Di Sisilia, buku-buku Aristoteles diterjemahkan ke dalam Latin dari terjemahan bahasa Arabnya, untuk kemudian dibawa ke Itali. Pada saat yang sama universitas-universitas penting juga didirikan di Pandua, Toulouse dan, belakangan di Leon.
Akhirnya, pada tahap ketiga, sains Muslim ditransmisi ke Prancis dan wilayah-wilayah Barat lewat Itali. Seminari-seminari dari Bologna dan Montpellier didirikan pada awal abad ketiga belas. Baru beberapa saat kemudian universitas Paris dibuka. Sementara itu, sains Barat ini tiba ke Inggris dan Jerman, masing-masing lewat universitas Oxford dan Köln, yang didirikan dengan pola yang sama.[12]
Dari pelbagai universitas yang ada, tiga di antaranya yang sangat termasyhur yakni universitas Al-Azhar di Kairo, universitas Nizamiyah di Baghdad, dan universitas Cordoba di Andalusia. Untuk yang terakhir ini, banyak orang Barat-Kristen yang belajar di sana, yang pada urutannya kelak menjadi salah satu tempat terpenting dalam proses transmisi pemikiran dan sains Islam ke negeri-negeri asal mereka.
Sementara itu, bila hendak menelusuri bentuk-bentuk transmisi pemikiran dan sains Islam ke Barat, setidaknya terdapat dua jalur paling menonjol yaitu kontak intelektual dan perang salib.
1.      Kontak Intelektual
Dalam konteks ini, sedikitnya terdapat dua tempat yang sangat penting dikemukakan di sini untuk disebut sebagai "pusat" transmisi pemikiran dan sains Islam ke Barat-Kristen Abad Pertengahan.
Pertama, Spanyol, tepatnya Andalusia. Di Andalusia banyak sekali universitas yang didirikan. Di sana, orang-orang Eropa banyak berdatangan untuk kepentingan studi dan transfer cultural. Sebut saja misalnya, Michael Scot, Robert Chester, Adelard Barth, Gerard dari Cremona, dan lain-lain nama yang merintis kegiatan studi di Andalusia.[13] Toledo mempunyai peranan amat penting dalam hal ini. Seperti diketahui bahwa Toledo, yang telah direbut kembali oleh orang-orang Nasrani kemudian, terdapat masjid-perpustakaan yang amat banyak menyimpan khazanah intelektual Muslim. Orang-orang Arab campuran dan Yahudi, kemudian bekerja bersama-sama orang Nasrani Spanyol untuk melakukan penerjemahan besar-besaran. Mereka mempelajari dan selanjutnya menerjemahkan matematika, kedokteran, astronomi, fisika, kimia, dan lain-lain dari universitas-universitas tersebut baik yang berada di Cordoba, Toledo, Seville maupun Granada.[14]
Kedua, Sisilia. Di wilayah ini, sains Islam, khususnya kedokteran dipelajari di Salermo. Penerjemahan besar-besaran dilakukan terutama oleh Constantinus Africanus (1087 M) yang beruntung menjadi murid seorang Arab. Dari terjemahan-terjemahan bahasa Arab, ia menghasilkan terjemahan Latin karya-karya Hipocrates dan Gales di samping menerjemahkan karya-karya orisinal sarjana-sarjana Muslim. Di Palermo, ibukota Sisilia, juga timbul gerakan penerjemahan besar-besaran pada abad ke-13 M di bawah dorongan Raja Fredrick II dan Roger II. Dari sini, karya-karya terjemahan itu dibawa ke Eropa bagian selatan, dan kelak melahirkan Renaisans di Itali.[15]
2.      Kontak Perang Salib
Siria dan sekitarnya, seperti diketahui, adalah wilayah di mana Islam dan Barat berjumpa dalam bentuk perang Salib. Perang yang berlangsung antara 1095 sampai 1291[16] ini, sedikitnya punya pengaruh terhadap transmisi pemikiran dan sains Islam ke Barat. Kendati demikian, disadari bila pengaruh perang salib di sini tidaklah begitu intens, mengingat orang-orang yang datang sebagai pasukan Salib adalah ksatria-ksatria perang dan bukan ilmuan. Sehingga, dapat dikatakan bahwa sekiranya pun terjadi transmisi akibat perang salib tetapi bentuknya tak lebih dari peniruan tatacara hidup sebagai hasil kekaguman Barat—dalam hal ini pasukan Salib—terhadap masyarakat Islam yang mereka lihat. Transmisi terlihat terutama pada kemiliteran, arsitektur, teknologi pertanian, industri, rumah-rumah sakit, permandian umum, dan dalam batas tertentu juga sastra.[17]
Di samping dua bentuk yang mengakibatkan terjadinya transmisi pemikiran dan sains Islam ke Barat, tak sedikit historian melihat bila terdapat pula pengaruh kontak pribadi dalam proses itu. Pandangan ini berangkat dari satu kenyataan bahwa sejak penaklukan Siria, Mesir dan Persia oleh ekspedisi-ekspedisi Islam sejak khalifah 'Umar ibn al-Khattab, tak sedikit orang-orang Kristen di Timur (Bizantium) menjalin kontak pribadi dengan orang-orang Islam. Karena semangat liberasi, moderasi dan toleransi yang dimiliki umat Islam, sehingga orang-orang Kristen tidak menemukan halangan dalam mengikuti kegiatan intelektual dan kebudayaan kaum Muslim. Tak jarang di antara mereka menjadi tokoh-tokoh penting dalam gerakan keilmuan Islam yang lahir kemudian. Mereka pula yang kelak banyak membantu menerjemahkan karya-karya keilmuan Yunani ke dalam bahasa Arab, dan selanjtnya, terutama pada paruh awal abad ke-11, karya-karya terjemahan berbahasa Arab itulah yang diterjemahkan ke dalam bahasa Latin oleh sarjana-sarjana Barat.

C.    PENGARUH SAINS ISLAM TERHADAP SAINS BARAT
Salah satu karya pemikiran Barat yang secara jujur melihat pengaruh pemikiran Islam terhadap pemikiran Barat-Kristen adalah Kalam Cosmological Argument, karangan William Craig. Sementara, polemik posthumous antara Al-Ghazali dan Ibn Rusyd[18] misalnya, mendapatkan pantulannya dalam pemikiran Bonaventura dan Thomas Aquinas (1226-1274). Sekalipun di bawah bayangan inkuisisi mereka tidak akan mengakui pengaruh itu, namun para sarjana modern menemukan bahwa itu memang ada, dan cukup substansial. Demikian pula, sekarang ini mulai ada perhatian kepada kemungkinan adanya pengaruh pemikiran Islam ke dalam teologi Reformasi Kristen. Misalnya, ajaran Reformasi Kristen bahwa Kitab Suci terbuka untuk semua pemeluk (dan tidak perlu dibatasi wewenang membaca dan menafsirkan hanya kepada kelas pendeta saja), dan bahwa setiap pribadi manusia bertanggung jawab kepada Tuhan.[19] Mempertimbangkan bahwa ajaran serupa itu hampir tidak dikenal di kalangan Kristen sebelumnya, maka sulit sekali membayangkan bila para pemikir Reformis tidak terpengaruh ajaran Islam yang relevan.
Sementara itu, dalam bidang sains, pengaruh Islam atas Barat mencakup perkenalan ilmu-ilmu sejarah[20], metode kelimuan[21] dan penciptaan landasan bagi sains modern.
Salah satu metode keilmuan—terutama dalam kerangka bangunan sains Islam—motif penemuan metode eksperimental oleh kaum Muslim, memang patut dikedepankan di sini. Seperti diketahui, dengan kian meluasnya teritori Islam—sebagai hasil gemilang ekspedisi-ekspedisi militer (futuhat) sejak 'Umar ibn al-Khattab, khalifah II—kaum Muslim mengalami kontak-kontak kebudayaan dan ilmiah (scientific and cultural encounter) dengan bangsa-bangsa lain. Satu di antara kontak terpenting adalah perjumpaan Islam dengan kebudayaan Yunani.
Namun, kata Iqbal[22] berhubung dengan konkretnya jiwa Al-Qur'an, sedang pemikiran Yunani bersifat spekulatif, maka timbullah pemberontakan intelektual kaum Muslim terhadapnya di segenap lini berfikir. Memang Al-Qur'an—bertentangan dengan pemikiran Yunani yang lebih mengutamakan teori dan mengabaikan kenyataan—memberi perhatian yang sangat besar kepada, di samping anfus (jiwa), juga alam empiris (afaq)[23] dalam terminologinya.
Di bagian lain Iqbal menulis:[24]
....seperti semua kita ketahui, filsafat Yunani telah merupakan tenaga kebudayaan yang besar dalam sejarah Islam. Dalam pada itu, satu studi yang sungguh-sungguh tentang Al-Qur'an serta pelbagai mazhab agama skolastik yang lahir di bawa pemikiran Yunani telah membuka suatu kenyataan yang menarik sekali, yakni sementara filsafat Yunani banyak sekali membuka cakrawala ahli-ahli pikir Islam, ia pun secara merata telah pula mengaburkan pandangan mereka tentang Al-Qur'an. Socrates telah memusatkan perhatiannya kepada dunia manusia semata. Baginya, satu studi yang layak tentang manusia adalah manusia dan bukan dunia tumbuh-tumbuhan, serangga, atau bintang-bintang. Betapa bedanya dengan ruh Al-Qur'an, yang memandang juga kepada lebah sebagai penerima ilham Ilahi, dan menyeru tiada putusnya kepada pembacanya supaya memperhatikan pula pertukaran angin, pergantian siang dan malam, awan, angkasa penuh bintang, serta planet-planet yang mengarungi ruang angkasa tak bertepi. Sebagai seorang murid Socrates yang sejati, Plato memandang rendah sekali cerapan penginderaan yang menurut pandangannya hanya menghasilkan pendapat dan bukan pengetahuan yang nyata. Betapa beda dengan Al-Qur'an, yang memandang pendengaran dan penglihatan sebagai pemberian Ilahi yang sangat berharga sekali dan dinyatakan sebagai yang bertanggung jawab kepada Tuhan dalam segala kegiatannya....

Sengaja diketengahkan kutipan Iqbal di sini secara agak panjang untuk memperlihatkan bila metode induktif-empirikal bukanlah adopsi dari pemikiran Yunani. Dari kutipan itu jelas pula terlihat jika paradigma pemikiran Yunani cenderung bercorak deduktif-rasional dan karena itu pula "melangit". Sedangkan pemikiran Islam, dengan metode induktif-empirikalnya dapat dipandang sebagai upaya "pembumian" pemikiran sehingga menyentuh langsung kebutuhan dasar (basic need) umat manusia.
Segeralah, setelah itu, Islam melahirkan tidak sedikit ilmuan-ilmuan eksperimental yang luar biasa.[25] Kepada sebagian di antara mereka inilah Roger Bacon, bahkan juga Francis Bacon—yang kemudian disebut-sebut sebagai 'penemu' metode eksperimental di Barat—belajar di universitas Islam di Spanyol.
Di samping afaq (alam empirik) dan anfus (jiwa), Al-Qur'an juga banyak menyebut sejarah sebagai sumber pengetahuan.[26] Walhasil, kaum Muslim tercatat sebagai sejarawan-sejarawan—dalam arti sesungguhnya istilah ini—yang paling dini dalam sejarah umat manusia. Kita, misalnya, mengenal Al-Thabari, Ibn al-Atsir, Al-Mas'udi dan puncaknya Ibn Khaldun sebagai sejarawan dan historiograf-historiograf paling dini. Bahkan untuk tokoh yang terakhir ini, dipandang sebagai filsuf sejarah yang pertama di dunia.[27]
Penemuan metode eksperimental oleh cendekiawan Muslim memperlihatkan kemudian pengaruhnya yang amat besar terhadap penciptaan landasan sains modern. Sejak Roger Bacon dan Francis Bacon "merumuskan" kembali metode empirikal sebagai metode keilmuan, sains Barat tiba-tiba saja mengalami revolusi. Suatu iklim keilmuan yang kelak berpengaruh terhadap gerakan Renaisans di Barat.

D.    PENUTUP
Sebagai kesimpulan, dapatlah diutarakan sebagai berikut :
1.      Tahapan-tahapan perkembangan pemikiran dan sains Islam. dimulai dengan upaya penerjemahan karya-karya pengetahuan Yunani (sangat dominan) di samping Persia, Mesir dan India. Proses transmisi pengetahuan itu diawali dengan penerimaan (reception), pencatatan (preservation) dan pada akhirnya pemindahan (transmition).
2.      Pola dan bentuk kontak intelektual sehingga terjadi transmisi sains dari dunia Islam ke Barat-Kristen Abad Pertengahan setidaknya melalui dua jalur; pertama, kontak intelektual dan kedua, perang salib. Kendati demikian, bila dibanding yang pertama, pola kedua tidak melahirkan proses transmisi yang berarti.
3.      Pengaruh sains Islam terhadap sains Barat-Kristen Abad Pertengahan sangat menonjol terutama sesaat setelah diketemukannya metode eksperimental oleh para cendekiawan Muslim. Penemuan metode ini tidak saja "merombak" metode deduktif-rasional pemikiran Yunani, melainkan menjadi landasan sains Barat dan karena itu juga sains modern.

Demikianlah sekelumit tentang proses transmisi dan sekaligus pengaruh sains Islam yang pernah terbangun secara gemilang terhadap sains Barat. Terasa sains Islam kini hanya tinggal "nostalgia". Suatu kegelisahan memang. Tetapi yang dituntut sesugguhnya adalah kerja ekstra umat Islam untuk berfikir keras (ijtihad)—menggunakan 'aql (intelektualitas), mengekspresi fenomena alam semesta (natural phenomena) dan mengkaji Al-Qur'an secara serius dan intensif sebagai sumber ilmu yang Benar. Hanya dengan upaya itu, terasa kejayaan Islam dapat tercerahkan kembali.
Wallah-u a'lam bi al-Shawab.


DAFTAR PUSTAKA

Abd al-Baqi, Muhammad Fu'ad ', Al-Mu'jâm al-Mufahras lî Alfâdz al-Qur'ân al-Karîm, Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th.

Bagir, Haidar, "Jejak-jejak Sains Islam dalam Sains Modern", jurnal Ulumul Qur'an, No. 2 Vol. 2 thn. 1989.

Bakar, Osman, Tawhid and Science: Essay and The History and Philosophy of Science, Malaysia: Secretarian for Islamic Philosophy and Science dan Nurin Interprise, 1991.

Belio, Iysa A., The Medieval Islamic Controversy Between Philosophy and Ortodoxy: Ijma' and Ta'wil in The Conflict Between Al-Ghazali and Ibn Rushd, Leiden, 1989.

Enan, Mohammad Abdullah, Ibn Khaldun: His Life and Works, New Delhi: Kitab Bavhan, 1979.

Fakhry, Majid, A History of Islamic Philosophy, edisi II, London: Longman Group Limited Ltd, 1970.

Hitti, Philip K., History of The Arabs, London: Mac Millan & Co. Ltd, 1964.

Ibn al-Jawzi, Al-Muntazhâm fî Tarîkh al-Mulk wa al-Umm, Hyderabad: Da'irat al-Ma'arif al-Utsmaniyah, 1987.

Iqbal, Muhammad, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, terjemahan Osman Raliby, Jakarta: Tinta Mas, 1966.

Madjid, Nurcholish, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, Cet. I, Jakarta: Paramadina, 1995.

Musa, Muhammad Yusuf, Bayn al-Dîn wa al-Falsafah fî Ra'y Ibn Rusyd wa Falsafah al-Ashr al-Wasîth, Bairut: Jamî' al-Huqûq Mahfîzhah, 1988.

Myers, Eugene A., Arabic Thought And The Western World: In The Golden Age of Islam, New York: Frederick Ungar Publishing Co; 1964.

McCarthy, M. Joseph, Freedom and Fulfilment: An Annotated  Min al-Dhalal and Other Relevan Works of Al-Ghazali, Boston, 1980.

Nasution, Harun, "Peran Ajaran Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan" dalam Islam Rasional, Cet. I; Bandung: Mizan, 1995.

Sabra,  A.I., "Cross Cultural Transmission of Natural Knowledge and Its Social Implication", Paper yang disampaikan dalam rangka The XVIIth International Congress of The History of Science, Berkeley, California, 8 Agustus 1986.

Shiddiqi, Nourouzzaman, Tamaddun Islam: Bunga Rampai Kebudayaan Muslim, Jakarta: Bulan Bintang, 1986.

Ulumul Qur'an, No. 4, Vol. IV, Thn. 1993.

'Umaruddin, M., The Ethical Philosophy of Al-Ghazali, Lahore: 1977.

Watt, W. Montgomery, The Faith and Practice of Al-Ghazali, London: Allent & Unwin, 1953.


[1]Satu bentuk perpindahan tanpa mengalami perubahan berarti.
[2]Lihat, A.I. Sabra, "Cross Cultural Transmission of Natural Knowledge and Its Social Implication", Paper, h. 1, yang disampaikan dalam rangka The XVIIth International Congress of The History of Science, Berkeley, California, 8 Agustus 1986.
[3]Ibid.
[4]Patut ditegaskan di sini bila transmisi intelektual dan sains ke dunia Islam, tidak semata bersumber dari ilmu pengetahuan Yunani, tapi juga dari peradaban lain seperti Persia, Mesir dan juga India. Kendati demikian, dominasi ilmu Yunani dalam proses transmisi tersebut memang satu kenyataan yang tak dapat dibantah. Untuk penjelasan ini, lihat antara lain Eugene A. Myers, Arabic Thought And The Western World: In The Golden Age of Islam, (New York: Frederick Ungar Publishing Co; 1964), khususnya bagian Bagian VI, di bawah judul "Translation into Arabic, A.D 650-1000", h. 66-77. Lihat juga Harun Nasution, "Peran Ajaran Islam dalam Perkembangan Ilmu Pengetahuan" dalam Islam Rasional, (Cet. I; Bandung: Mizan, 1995), h. 298-299.
[5]Lihat Myers, "Translation…" ibid., h. 67-68. Untuk buku non-Yunani yang diterjemahkan cendekiawan Muslim ke dalam bahasa Arab, dapat disebutkan antara lain: Muhammad ibn Ibrahim al-Fazari (772), menerjemahkan ilmu Astronomi Sanskrit, Siddahanta, juga matematika dari India; Abu Sahl al-Fadl ibn Naubkhf, seorang Persia yang pernah menjadi kepala perpustakaan Harun al-Rasyid, menerjemahkan ilmu astronomi Persia; Jirjis ibn Jibril ibn Pakhtyashu, menerjemahkan ilmu-ilmu kedokteran dari Persia, juga ilmu-ilmu fisika Persia dan Abdullah ibn Muqaffa (758) menerjemahkan ilmu-ilmu logika dan kedokteran Persia,
[6]Lihat lebih jauh Philip K. Hitti, History of The Arabs, (London: Mac Millan & Co. Ltd, 1964), h. 530.
[7]Sebagai catatan tambahan patut dikemukakan di sini mengapa terminologi sains Islam (Islamic Science) tetap dipertahankan. Hal ini di samping untuk konsistensi pengutipan atas sumber juga menurut keyakinan penulis bila sains Islam yang dikenal dalam sejarah punya karakteristiknya sendiri. Terutama jika dilihat secara konseptual, sains Islam terkait secara orisinal dengan ajaran Islam yang fundamental, yang terpenting di antaranya ialah prinsip tawhid. Untuk itu, secara teknis terminologi sains Islam dalam tulisan ini, sepenuhnya merujuk pada rumusan Dr. Osman Bakar: "Sains Islam bersifat ilmiah sekaligus religius dengan pengertian bahwa ia secara sadar didasarkan pada prinsip-prinsip metafisik, kosmologis, epistemologis, etis dan prinsip moral Islam." Lihat lebih lanjut, Osman Bakar, Tawhid and Science: Essay and The History and Philosophy of Science, (Malaysia: Secretarian for Islamic Philosophy and Science dan Nurin Interprise, 1991).
[8]Dr. Munawar Ahmad Anees adalah seorang pakar biologi yang bergiat di bidang penemuan filsafat-sains Islam. Banyak berkecimpung dalam pelahiran dan pengembangan jurnal-jurnal ilmiah keislaman yang punya reputasi internasional. Pernah menjadi contributing-editor pada Afkar/Inquiry (London), Editor pada Journal of Islamic Science & International Journal of Islamic and Arabic Studies (Bloomington) dan kini menjabat managing-editor pada Periodica Islamica (Malaysia).
[9]Lihat Haidar Bagir, "Jejak-jejak Sains Islam dalam Sains Modern", jurnal Ulumul Qur'an, No. 2 Vol. 2 thn. 1989, h. 34-5.
[10]Ibid.
[11]Mengenai tahapan-tahapan dan kontak-kontak yang menyebabkan terjadinya transmisi sains Islam ke Barat, secara amat detil dan panjang, lihat Myers, op. cit., khususnya pada bagian VII di bawah judul, "The impact of translation of The West", h. 78-131. Di sini Myers, tidak saja mengemukakan sarjana-sarjana Barat yang melakukan upaya penerjemahan karya-karya cendekiawan Muslim yang berbahasa Arab, tapi juga menyebut jenis-jenis buku dan klasifikasi disiplinnya, yang tak kurang dari 200 judul. Lihar pula Bagir, loc.cit.
[12]Kesamaan pola antara seminari-seminari Muslim dengan universitas-universitas Barat yang dibangun kemudian, terutama dapat dilihat dari segi fasilitas perpustakaan, sistem guru besar, para guru besar, staf-karyawan dan mahasiswa ditempatkan pada bangunan tertentu dalam lingkungan universitas. Pola dimaksud, terutama dapat dilihat pada madrasah Nizamiyah, khususnya yang berada di Baghdad. Untuk penjelasan lebih lanjut, lihat, Ibn al-Jawzi, Al-Muntazham fi Tarikh al-Mulk wa al-umum, (Hyderabad: Da'irat al-Ma'arif al-Utsmaniyah, 1987), IX, h. 143.
[13]Lihat Myers, "The Impact…", loc.cit.
[14]Myers, ibid. Lihat pula, Nourouzzaman Shiddiqi, Tamaddun Islam: Bunga Rampai Kebudayaan Muslim, (Jakarta: Bulan Bintang, 1986), h. 67-80.
[15]Lihat Harun Nasution, op. cit., h. 302.
[16]Menurut penelusuran Mahmoud M. Ayoub bahwa Perang Salib sesungguhnya lebih tepat dipandang sebagai contoh terbaik dalam melacak akar-akar konflik Muslim-Kristen, ketimbang misalnya sebagai "medium" transmisi sains Islam ke Barat. Menurutnya, "perang" ini justru berkelanjutan sepanjang sejarah bahkan hingga abad 20 sekalipun. Lihat, Ulumul Qur'an, No. 4, Vol. IV, Thn. 1993, h. 29-32.
[17]"Debat" antara Al-Ghazali (w. 1111) dan Ibn Rusyd (1126-1198) didasari dari kritik keras Al-Ghazali terhadap pemikiran filsafat Muslim dalam magnum opusnya Tahafut al-Falasifah. Menurut Al-Ghazali, pemikiran filsafat Muslim telah tumbuh di bawah, atau mendapat inspirasi dari filsafat Yunani. Meski demikian, sebagaimana sering dikemukakan sebagian ahli, bahwa Al-Ghazali tidak menyerang filsafat sebagai filsafat, melainkan kritiknya itu diarahkan kepada pemikiran filosof-filosof Muslim yang berkembang di bawah pengaruh Aristotelianisme yang, menurut Al-Ghazali, telah tidak Islami. Dengan kata lain, Al-Ghazali pada dasarnya tidak menolak filsafat secara keseluruhan. Terbukti dengan banyaknya pemikiran filsafat Al-Ghazali yang justru menarik perhatian para filosof dikemudian hari. Sebagai contoh dapat disebutkan mengenai masalah keraguan dalam sistem filsafatnya yang ia tuangkan dalam karyanya Al-Munqidz min al-Dhalâl (Pembebasan dari Kesesatan). Tentang karya ini dan karya sejenis, lihat antara lain, M. Joseph McCarthy, Freedom and Fulfilment: An Annotated  Min al-Dhalal and Other Relevan Works of Al-Ghazali (Boston, 1980). W. Montgomery Watt, The Faith and Practice of Al-Ghazali, (London: Allent & Unwin, 1953) dan M. 'Umaruddin, The Ethical Philosophy of Al-Ghazali, (Lahore: 1977) serta Sami M. Najm, "The Place and Function of Doubt in The Philosophies of Descartes and Al-Ghazali". Kendati demikian, kesan mengenai serangan Al-Ghazali terhadap filsafat sedemikian dominannya sehingga Ibn Rusyd merasa berkewajiban membantai pendapat Al-Ghazali dalam Tahafut al-Tahafut, terutama ia membela mati-matian pemikiran Aristotelianisme. Tentang 'pembelaan' Rusyd, lihat antara lain, Majid Fakhry, A History of Islamic Philosophy, edisi II, (London: Longman Group Limited Ltd, 1970). Bahkan tak sedikit buku yang lahir kemudian kian memperlihatkan luasnya wilayah "perdebatan" antara kedua tokoh pemikir Muslim itu. Antara lain dapat disebut karya Iysa A. Belio, The Medieval Islamic Controversy Between Philosophy and Ortodoxy: Ijma' and Ta'wil in The Conflict Between Al-Ghazali and Ibn Rushd, Leiden, 1989. Juga untuk melihat lebih jernih konsistensi pemikiran filsafat Ibn Rusyd, lihat antara lain karya Muhammad Yusuf Musa, Bayn al-Dîn wa al-Falsafah fî Ra'y Ibn Rusyd wa Falsafah al-Ashr al-Wasîth, (Bairut: Jamî' al-Huqûq Mahfizhah, 1988).
 [18]Ibid.
[19]Lihat Nurcholish Madjid, Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia, Cet. I, (Jakarta: Paramadina, 1995), h. 47-48.
[20]Karya monumental Ibn Khaldun (1332-1382) Muqaddimah, dapat dipandang sebagai studi rintisan dan peletak dasar ilmu-ilmu sejarah dalam Islam, yang kelak berpengaruh terhadap historiografi Barat. Untuk kehidupan dan karya-karya Khaldun, lihat antara lain, Mohammad Abdullah Enan, Ibn Khaldun: His Life and Works, (New Delhi: Kitab Bavhan, 1979). Dalam karya ini, Enan tidak hanya menelusuri perkembangan pemikiran Khaldun di Afrika Utara, Andalusia, dan Mesir, tapi sekaligus menelaah karya-karya intelektual Khaldun baik tentang dasar-dasar ilmu sejarah, sosiologi, politik, sains dan bahkan perbandingan pemikiran politik Khaldun dengan Machiavelli.
[21]Diantara sumbangan terpenting cendekiawan Muslim terhadap sains Barat, adalah penemuan metode eksperimental. Satu jenis metode keilmuan yang bertumpu pada pemikiran induktif-empirikal. Metode ini kelak memicu lahirnya revolusi di bidang sains dan teknologi di Barat hingga ke tingkat perkembangannya sampai sekarang ini.
[22]Lihat Muhammad Iqbal, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, terjemahan Osman Raliby, (Jakarta: Tinta Mas, 1966), h. 125-127.
[23]Untuk ayat-ayat Al-Qur'an yang menyeru pembacanya agar 'memperhatikan' dan 'mengkaji' alam semesta (empirik), lihat antara lain: QS. 10:101; 3:190-191; 88:1 & 18; 96:1-5; 41:11-12 & 53; 65:12; 32:4; 11:7; 35:41 dan lain sebagainya. Untuk penelusuran lebih lanjut, lihat, Muhammad Fu'ad 'Abd al-Baqi, Al-Mu'jam al-Mufahras lî Alfâdz al-Qur'ân al-Karîm, (Indonesia: Maktabah Dahlan, t.th.).
[24]Iqbal, op. cit., h. 5.
[25]Para ilmuan Muslim—untuk menyebut beberapa orang di antaranya—yang memiliki metode empirikal dapat disebutkan antara lain: Al-Biruni (w. 1408) seorang petualang filsuf, matematikawan, ahli astronomi, geografi, fisikawan, juga seorang ahli sastra dan diakui sebagai "ilmuan" Muslim terbesar (the great scientist of Islam); Ibn al-Haitham (w. 1039) seorang ahli yang mempelajari optika secara eksak. Karya monumentalnya, Optics (Arab: Kitab al-Manâzhir) dipandang sebagai karya yang mendasari teori-teori Newton; Ibn Sina (w. 1036) sosiolog dan ahli ilmu alam terpandang. Karya monumentalnya menyangkut masalah kedokteran, Kitab al-Shifâ' (Inggris: Book of Healing); Abu Musa Jabir Ibn Hayyan (700-777), ahli kimia Muslim yang juga sangat menekankan bukti empiris untuk menopang kebenaran satu teori. Karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Gebri Arabic Chimiasive Traditio Summal Perfectionis et Investigatio Magisterii pada 1668; Abu Bakar Muhammad Ibn Zakaria al-Razi (866-909), di Barat dikenal sebagai Rhazez, adalah sarjana kedokteran dan ahli kimia terbesar. Karyanya Al-Asrar, pada abad ke-12 diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan menjadi rujukan praktikum kedokteran di Barat; Al-Khawarizmi (780-850) adalah perintis Al-Jabar. Bukunya, Al-Jabr wa al-Maqâbalah diterjemahkan ke dalam bahasa Latin, Liber Algoritm; dan Omar Khayyam, seorang ahli ilmu pasti Muslim yang pemikirannya berpengaruh besar di Barat. Tingkat al-jabar Khayyam bukan saja lebih maju dari Euclides, malahan dianggap lebih tinggi dari Al-Khawarizmi. Lebih lanjut, lihat Myers, op. cit., khususnya pada bagian II di bawah judul, "Eleventh Century Learning", h. 31-34.
[26]Antara lain QS. 11:120; 3:140; 30:9, dan sebagainya.
[27]Lihat, Bagir, op. cit., h. 26-27 dan Enan, op. cit., Buku II, khususnya bagian III, "Kitab al-Ibar" dan "Al-Taarif", h. 134-139.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar